Hepi Fest menjadi puncak peringatan Hari Disabilitas Internasional di Auditorium Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Jalan Terusan Sudirman Kota Cimahi, Minggu 7 Desember 2025. Festival kesetaraan tersebut merangkul warga disabilitas, komunitas, dan masyarakat lain untuk menumbuhkan empati, mendorong inklusi, dan merayakan keberagaman.
Kegiatan dibuka dengan fun walk, juga tersedia layanan kesehatan, bazar UMKM inklusif, pameran produk karya inklusif, hingga sosialisasi bahasa isyarat. Sejumlah warga disabilitas turut unjuk kabisa lewat Kaulinan Barudak SLB BC Nurani, Tari Manuk Dadali SLB A N Citeureup, Band Netra Abiyoso, Tari Kreasi Sunda BHKC, Angklung PPOI-Hasrat Mulia, dan Pantomim SLB Prima Bhakti Mulia, Alunan Isyarat by Panangan Suminar feat Gerkatin Kota Cimahi, serta Paduan Suara Gita Campernik x Pusbisindo. Ada pula Club Dangdut Racun dan Yovie & Nuno.
Turut digelar drama musikal “Impian Tak Terlihat” produksi Masyarakat Teater Cimahi (Masteci) kolaborasi dengan Sentra Abiyoso melibatkan para pelajar Sekolah Rakyat. Sepanjang drama berlangsung, diperagakan bahasa isyarat untuk penonton disabilitas rungu-wicara.
Walikota Cimahi mengapresiasi kegiatan yang digelar tanpa APBD Kota Cimahi. “Ini jadi kebanggaan kita. Saya punya Wakil Wali Kota Cimahi yang menggagas komunitas Hepi+ berisi anak-anak muda berkoordinasi dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kota Cimahi menggelar acara ini. Alhamdulillah sukses berjalan lancar,” ujarnya.
Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira menambahkan, kegiatan ini bagian dari dukungan terhadap Pemkot Cimahi dalam meningkatkan Indeks Kebahagiaan warga Kota Cimahi melalui gerakan kolaborasi.
Selain itu Ketua HIPMI Kota Cimahi Sekaligus CEO Hepiplus Aria Putra Perdana Menyampaikan juga “Hepifest menjadi salah satu momentum yang paling membanggakan bagi kami.
Acara ini berjalan sangat lancar dan penuh suasana hangat, dengan mengangkat tema Hari Disabilitas Internasional, Hepifest tidak hanya menjadi sebuah festival, tetapi juga ruang besar untuk merayakan inklusivitas, empati, dan keberagaman.
Kami melihat langsung bagaimana masyarakat, komunitas difabel, para relawan, serta berbagai mitra dapat berbaur dalam satu panggung yang sama—berkarya, berinteraksi, dan saling menguatkan. Kehangatan dan energi positif dari Hepifest menjadi bukti bahwa ketika kolaborasi dijaga, ruang kesetaraan bisa tercipta, dan Cimahi bisa menjadi kota yang semakin ramah serta terbuka bagi semua.tutupnya***








































