KOTA TASIKMALAYA, || Usman Koto terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Tasikmalaya periode 2026–2031. Ia memperoleh 58 suara dari 104 hak pilih dalam Musyawarah Daerah (Musda) DPD PKDP Tasikmalaya 2026 yang digelar di No. 40, Kelurahan Sukahurip, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Minggu (27/9/2026).
Dalam rapat pleno pemilihan, dua kandidat lainnya memperoleh suara lebih sedikit. Basri Joni meraih 33 suara, sedangkan Rince Pranata mendapatkan 13 suara.
Dengan hasil tersebut, Usman Koto ditetapkan sebagai ketua terpilih untuk memimpin DPD PKDP Tasikmalaya selama lima tahun ke depan.
Musda mengusung tema “Bijak di Rantau Paguno di Kampung” dengan slogan “Mangumpuan Nan Taserah Manjapuik Nan Taicie.” Selain menjadi forum pemilihan kepemimpinan, Musda menjadi ruang konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat silaturahmi keluarga besar perantau asal Pariaman di Tasikmalaya.
Tantangan kepemimpinan baru tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan program organisasi, tetapi juga menjaga kekompakan anggota di tengah perbedaan pilihan selama proses Musda.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Ikatan Keluarga Minang (IKM) Tasikmalaya, Syahrial Koto, dalam sambutannya. Ia mengapresiasi terselenggaranya Musda dan meminta seluruh peserta tetap menjaga persaudaraan setelah proses pemilihan selesai.
Menurut Syahrial, Musda bukan sekadar agenda memilih ketua, melainkan momentum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, mempererat silaturahmi, serta menyatukan langkah untuk lima tahun mendatang.
“Atas nama IKM Tasikmalaya, saya mengucapkan selamat dan apresiasi kepada keluarga besar PKDP Tasikmalaya yang telah melaksanakan MUSDA ini,” ujar Syahrial.
Ia juga memberikan apresiasi kepada tiga kandidat yang mengikuti kontestasi, yakni Rince Pranata, Basri Joni dan Usman Koto.
Rince Pranata disebut tidak dapat hadir karena sedang menjalankan ibadah umrah di Tanah Suci. Sementara Usman Koto hadir langsung dalam Musda meski tengah berduka karena ibundanya wafat di Pariaman.
Syahrial mengingatkan bahwa perbedaan pilihan dalam sebuah musyawarah merupakan hal yang wajar. Namun, menurutnya, perbedaan tersebut tidak boleh mengganggu hubungan kekeluargaan sesama perantau.
“Perbedaan pilihan adalah hal yang biasa dalam sebuah musyawarah. Tetapi yang harus kita jaga adalah persaudaraan dan silaturahmi,” katanya.
Ia berharap seluruh peserta dapat menerima hasil Musda dan memberikan dukungan kepada ketua terpilih.
“Boleh berbeda pilihan, tetapi jangan sampai berbeda dalam persaudaraan. Basamo Mangkonyo Manjadi,” ucapnya.
Selain persoalan kepemimpinan, IKM Tasikmalaya juga menyampaikan sejumlah harapan terhadap arah organisasi PKDP ke depan. Salah satunya menyangkut penguatan tata kelola organisasi, mulai administrasi, kepengurusan hingga pendataan anggota.
Syahrial mendorong PKDP menjadi organisasi yang semakin modern dan berbasis data. Dengan demikian, setiap program kerja diharapkan memiliki perencanaan, dokumentasi dan evaluasi yang lebih terukur.
Ia juga menekankan pentingnya memperkuat kekompakan sesama perantau Pariaman melalui semangat saling membantu dan peduli dalam berbagai kondisi.
“Kita boleh berbeda organisasi, berbeda wadah, tetapi kita tetap satu keluarga besar urang Minang di Tasikmalaya,” ujarnya.
IKM Tasikmalaya turut berharap DPD PKDP dapat mendukung pembangunan Masjid IKM Tasikmalaya, yang menjadi salah satu program utama organisasi. Masjid tersebut direncanakan tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat silaturahmi, kegiatan sosial, pembinaan generasi muda dan tempat berkumpul keluarga besar Minangkabau di Tasikmalaya.
Sementara itu, Ketua DPW PKDP Jawa Barat, Andika Fausi, menekankan pentingnya kepemimpinan yang amanah, kredibel dan mampu menjaga kekompakan serta integritas organisasi.
“Semoga Musda PKDP Tasikmalaya ini bisa memilih pemimpin yang amanah dan kredibel, serta mampu menjaga kekompakan dan solidaritas,” kata Andika.
Ia juga menyampaikan agenda pengembangan organisasi DPW PKDP Jawa Barat, termasuk rencana pembentukan sejumlah DPD baru di wilayah Jawa Barat.
Dalam konteks penguatan organisasi kewilayahan, Tasikmalaya juga disebut dapat menjadi bagian dari pengembangan cakupan organisasi yang lebih luas, termasuk keterhubungan dengan wilayah Ciamis, Banjar dan Pangandaran.
Hasil Musda kini menempatkan Usman Koto pada posisi untuk menjalankan amanah organisasi periode 2026–2031. Pelaksanaan program, konsolidasi anggota dan penguatan hubungan antarsesama perantau menjadi bagian dari agenda yang akan dihadapi kepengurusan baru.
Bagi keluarga besar perantau Minangkabau di Tasikmalaya, pesan yang mengemuka dalam Musda bukan hanya mengenai pergantian kepemimpinan, tetapi juga bagaimana hasil pemilihan dapat menjadi awal konsolidasi bersama.
Semangat tersebut dirangkum dalam ungkapan yang disampaikan dalam forum Musda:
“Saciok bak ayam, sadanciang bak basi. Satu rantau, satu keluarga.”
(Rizal)









































