Menjaga Resep Sejak 1953, Soto Bandung Lejen Bertahan Lintas Generasi dan Mendunia
BANDUNG – Semangkuk soto mungkin terlihat sederhana. Kuah bening, irisan lobak, potongan daging, taburan daun bawang dan seledri. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan perjalanan panjang resep yang telah melewati lebih dari tujuh dekade.
Di Jalan Pandu Nomor 14, Pamoyanan, Kota Bandung, aroma kuah soto yang gurih menyambut pengunjung sejak pagi. Tempat itu menjadi rumah bagi Soto Bandung Lejen. salah satu kuliner legendaris yang mempertahankan resep Soto Bandung sejak 1953.
Bagi pemilik Soto Bandung Lejen, Sony Jaka Yusuf, menjaga cita rasa bukan sekadar mempertahankan menu, tetapi juga merawat warisan keluarga yang telah melewati tiga generasi.
“Dari pemilihan material, pemilihan bumbu, pemilihan daging, sampai pengolahannya, dari dulu sampai sekarang itu sama,” ujar Sony saat ditemui di kedai Soto Bandung Lejen, Rabu 5 Agustus 2026.
Dari Kayu Bakar ke Gas, Rasa Tetap Dijaga
Perubahan zaman memang tidak bisa dihindari. Dahulu soto dimasak dengan kayu bakar, kini beralih ke gas agar lebih praktis.
“Dulu aromanya lebih tradisional karena pakai kayu bakar. Kalau sekarang sudah pakai gas, pasti ada beda aroma. Tapi cita rasanya tetap ada,” kata Sony.
Sejarah 3 Generasi
Jejak Soto Lejen bermula dari kakek Sony, *M. Tarya*, yang disebut sebagai salah satu pelopor Soto Bandung berbahan lobak. Pada era 1950-an, keluarga Sony berjualan di kawasan Jalan Tamim.
M. Tarya dan pengelola Soto Ojolali di Jalan Cibadak merupakan saudara.
“Kalau tahun 1970-an, yang saya tahu Soto Bandung itu hanya ada dua: Soto Ojolali dan Soto M. Tarya. Mereka adik kakak,” tuturnya.
Tradisi diteruskan. Setelah sempat berhenti, usaha kembali dibuka 1989 di Jalan Muhammad Ramdan No.85. Kini hadir di Jalan Pandu No.14. Sony adalah generasi ketiga. Nama “Lejen” diambil anaknya dari kata “legenda”.
Menu Pakem & Inovasi
Ciri khasnya daging tanpa lemak. Kini ada juga varian Soto Iga. Pelengkap tetap pakem Soto Bandung: usus, paru, babat, gepuk, perkedel, tahu, tempe.
Menu khas lain: Nasi Bejek dan “Jeroan Party”.
Dari 10 porsi terjual, 7 porsi adalah soto. Harga mulai Rp25 ribu hingga Rp47 ribu untuk Soto Iga.
Pelanggan Lintas Generasi & Mancanegara
Menariknya, sekitar 80% pelanggan awal adalah keturunan Tionghoa yang datang turun-temurun. Kini anak muda juga mulai banyak.
Karena dekat tol, 80% pelanggan akhir pekan berasal dari luar kota, dominan Jakarta. Wisatawan mancanegara juga rutin datang, termasuk rombongan dari Belanda. “Sebulan bisa tiga kali ada grup ke sini,” ujar Sony.
Dari Bandung untuk Dunia
Bagi Sony, perjalanan 70 tahun ini membuktikan makanan lokal bisa mendunia.
“Kalau saya pikir bisa mendunia. Tinggal bagaimana cita rasa yang diutamakan,” ujarnya.
Kayu bakar memang telah berganti gas. Generasi pun berganti. Selera pelanggan ikut berubah. Namun satu hal tetap: rasa yang menjadi warisan keluarga.
(Red/HMS) **









































