Bogalakon: Stop Banyak Narasi! Saatnya Karya Nyata Buat Bandung
*Bandung* – Senin, 17 Agustus 2026. Langit Cikapayang, Jalan Dago kembali memerah.
Untuk tahun kelima berturut-turut, tradisi pembentangan bendera raksasa kembali digelar. Bukan sekadar seremoni. Ini adalah pesan.
“Ini tradisi. 5 tahun berturut-turut kita lakukan. Tujuannya satu: membangun kesadaran tentang pentingnya arti persaudaraan di Kota Bandung,” tegas Adit Barli dari Bogalakon

Bandung Itu Kota Toleran
Di tengah hiruk pikuk, Aditya menegaskan identitas Bandung.
“Kita bilang bahwa Kota Bandung itu kota yang toleran. Dan itu harus kita jaga,” katanya.
Ia melihat sendiri buktinya di lapangan. Banyak komunitas dan kelompok yang terlibat. Anak muda, seniman, pegiat sosial. Semua turun.
“Ke depan ini akan kita estafetkan. Tahun depan kelompok mana lagi. Biar setiap kelompok bisa menunjukkan potensinya. Dari situ kita bangun inspirasi. Seperti apa sih kehidupan yang kita mau,” ujarnya.
Pesan Tegas ke Pemerintah: Hadir dan Aktifkan Potensi
Hadirnya *Wakil Wali Kota Bandung, H. Erwin* di acara ini, menurut Aditya, adalah bentuk awal keterlibatan pemerintah.
“Ini pembuktian bahwa pemerintah mulai hadir di kegiatan-kegiatan komunitas. Yang kami lakukan ini adalah kegiatan kesadaran,” ucapnya.
Tapi ia punya PR besar untuk Pemkot.
“Harapan saya, pemerintah harus lebih mengaktifkan lagi. Cari dan dorong potensi-potensi di masyarakat. Banyak sebetulnya,” pintanya.
Khusus untuk sektor seni dan budaya, Aditya melempar kritik membangun.
“Kalau bicara seni budaya, jangan cuma soal kesenian. Budaya itu _way of life_. Cara hidup. Dinas Kebudayaan harus bikin program yang membangun kesadaran ‘silih asah, silih asih, silih asuh’,” tegasnya.
Ia juga menyorot pendidikan.
“Jangan cuma pendidikan. Harus ada ‘seni pendidikan’. Dan tingkatkan juga kualifikasi guru-guru. Biar bisa mewujudkan Panca Waluya yang diharapkan KDM,” lanjutnya.
Kendala? Itu Latihan Buat Kreatif
Soal kendala di lapangan, Aditya santai.
“Banyak. Tapi buat kami, kendala itu latihan. Latihan biar kita makin kreatif,” katanya singkat.
Penutupnya paling menampar.
“Bandung sudah terlalu banyak narasi. Sekarang ayo kita melangkah. Berkarya nyata. Jadikan diri kita, pribadi kita, sebagai jalan alternatif untuk beribadah dan mewujudkan apa yang kita harapkan bersama,” pungkasnya.
Pengibaran bendera raksasa di Cikapayang ini menjadi bukti: semangat kemerdekaan di Bandung tidak pernah padam. Ia hidup di jalanan, di komunitas, dan di tangan anak-anak mudanya.
(Red) **









































