Paripurna LKPJ Ditunda, DPRD Tapteng “Disandera” Ketidaksiapan Pemerintah Daerah

INDONESIA 1

- Redaksi

Rabu, 29 April 2026 - 07:31 WIB

50189 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TAPTENG –Indonesia1.net) Penundaan rapat paripurna penyampaian Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Tapanuli Tengah memantik kritik keras dari DPRD. Situasi ini dinilai bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cermin buruknya tata kelola pemerintahan daerah.

 

Anggota DPRD Tapanuli Tengah dari Fraksi Gerindra, Madayansyah Tambunan, secara terbuka menyebut penundaan tersebut sebagai bentuk ketidaksiapan pemerintah daerah yang tidak bisa lagi ditoleransi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Dalam keterangannya kepada awak media, Selasa (28 April 2026), Madayansyah menegaskan bahwa mekanisme LKPJ telah diatur secara jelas dalam Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2019 serta Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014.

 

Ia menilai, mengabaikan agenda paripurna sama saja dengan meremehkan fungsi pengawasan DPRD yang dijamin undang-undang.

 

“Ini bukan agenda seremonial yang bisa diperlakukan seenaknya. Ini mandat konstitusi,” tegasnya.

Fakta di lapangan, sekitar pukul 10.00 WIB, anggota DPRD justru menerima pemberitahuan penundaan melalui grup WhatsApp internal.

 

Alasan yang disampaikan, yakni adanya agenda kunjungan pejabat dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, dinilai sebagai dalih yang tidak berdasar.

 

Madayansyah menilai, alasan tersebut tidak mencerminkan keseriusan pemerintah daerah dalam menghormati lembaga legislatif.

 

“Kalau Bupati tidak hadir, ada Wakil Bupati. Kalau itu pun tidak, ada Sekda. Tapi ini semuanya absen. Ini bukan kelalaian biasa, ini bentuk pengabaian,” ujarnya.

 

Ia menyebut absennya unsur pimpinan eksekutif dalam agenda resmi DPRD sebagai sinyal kuat adanya masalah serius dalam disiplin pemerintahan.

 

Lebih keras lagi, ia menilai pemerintah daerah terkesan lari dari tanggung jawab dan tidak siap mempertanggungjawabkan kinerjanya.

 

“Jangan sampai publik melihat ini sebagai upaya menghindari evaluasi. Ini sangat berbahaya bagi kepercayaan masyarakat,” katanya.

 

Di sisi lain, DPRD justru telah menunjukkan kesiapan penuh. Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) hadir, mulai dari kepolisian, TNI hingga kejaksaan.

 

Kondisi ini semakin memperjelas siapa pihak yang sebenarnya tidak siap menjalankan kewajibannya.

 

“Jangan dibalik-balik. Jangan DPRD dijadikan tameng untuk menutupi kelemahan eksekutif,” tegas Madayansyah.

Ironisnya, hingga saat ini DPRD bahkan belum menerima dokumen materi LKPJ yang seharusnya menjadi dasar pembahasan.

 

Padahal, tanpa dokumen tersebut, pembahasan tidak mungkin dilakukan secara substansial.

 

“Ini bukan sekadar kelalaian administratif. Ini bentuk ketidakseriusan yang terang-terangan,” ujarnya.

 

Ia mempertanyakan bagaimana mungkin DPRD diminta bekerja sementara bahan yang akan dibahas tidak pernah diberikan.

 

Menurutnya, kondisi ini memperlihatkan adanya pola kerja yang amburadul dan jauh dari prinsip transparansi.

 

Madayansyah menegaskan, DPRD tidak akan tinggal diam dan menolak keras jika terus dijadikan kambing hitam dalam situasi ini.

 

“Jangan cuci tangan. Kalau memang belum siap, katakan belum siap. Jangan lempar kesalahan ke DPRD,” katanya lantang.

 

Ia juga mengingatkan bahwa praktik seperti ini berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan.

 

“Kalau ini dibiarkan, masyarakat akan melihat ada yang tidak beres dalam tubuh pemerintah daerah,” ujarnya.

 

DPRD, lanjutnya, akan tetap menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal dan tidak akan tunduk pada pola kerja yang tidak profesional.

 

Ia mendesak pemerintah daerah segera berbenah dan menunjukkan itikad baik dalam menjalankan kewajiban konstitusionalnya.

 

“Ini bukan soal ego lembaga, ini soal tanggung jawab kepada rakyat. Jangan main-main dengan amanah,” pungkasnya.

(Hasanuddingulo)

Berita Terkait

Diduga Ada Intervensi: ASN Tak Lagi Netral, Dipaksa Ikut Agenda Politik
“Operasi Dipercepat, Bayi Meninggal: RSUD Pandan Dihantam Dugaan Malpraktik”
Bantuan Banjir Diduga Tak Tepat Sasaran, Lurah Ngamuk—Rahmansyah: Usut dan Tes Urin!
LSM Turun Tangan! Dugaan Penyelewengan Dana BOS Akan Dilaporkan ke Polda dan Kejati
Drama di Balik Tes Urine Lurah Padang Masiang, Proses Mandek Tuai Kecurigaan
Kontroversi Tes Urin Lurah Padang Masiang: Aroma Intervensi Kian Tercium
CV Napogos Berkarya Jaya: Galian Tanah Urug ,Zona Aman Bencana di Tapanuli Tengah
BAU BUSUK DANA DESA AEK GARUT KIAN MENYENGAT, KADES MEMBISU SAAT DIKONFIRMASI — ADA APA?

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 16:12 WIB

TKW Asal Bogor Sakit di Saudi Arabia Minta Pulang, Diduga Korban Sindikat TPPO, Pakai Paspor Imigrasi Jakarta Timur?

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:00 WIB

Muazin Tahun Baru Islam, Luncurkan Transformasi Digital dalam Gema Azan Nusantara

Senin, 1 Juni 2026 - 23:28 WIB

Penantian Panjang Berakhir, Warga Kampung Tanah Baru Sambut Gembira Perbaikan Jalan

Minggu, 31 Mei 2026 - 15:26 WIB

Aktivis Antikorupsi Akan Laporkan Dugaan Penyimpangan Proyek Jalan di Jawa Barat

Jumat, 29 Mei 2026 - 08:52 WIB

Menabrak UU Ketenagakerjaan: PT MPP Bekasi Diduga PHK Sepihak 17 Buruh , Sunat Tunjangan , dan Bayar Upah di Bawah UMK

Kamis, 28 Mei 2026 - 09:33 WIB

Teladani Keikhlasan Nabi Ibrahim, Aliansi Ormas Bekasi Potong 4 Hewan Qurban di Idul Adha 1447 H

Rabu, 27 Mei 2026 - 21:44 WIB

UPTD Bangunan Wilayah III Bekasi Disorot, Dugaan Ijon Proyek Menguat

Senin, 25 Mei 2026 - 08:56 WIB

Kodam III/Siliwangi Gelar Turnamen Pencak Silat, 25 Kodim Ikut Bertanding

Berita Terbaru