Si Geulis, Digitalisasi Pengelolaan Obat untuk Pelayanan Kesehatan yang Lebih Baik

INDONESIA 1

- Redaksi

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:28 WIB

5027 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDUNG | Dinas Kesehatan Kota Bandung terus mendorong peningkatan tata kelola obat melalui pemanfaatan teknologi digital. Upaya tersebut diwujudkan melalui Si Geulis (Sistem Integrasi Digitalisasi Perencanaan, Pengelolaan, dan Pengawasan Obat), sebuah aplikasi yang dirancang untuk mengintegrasikan proses perencanaan, pencatatan, pengelolaan, hingga pengawasan obat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Bandung, Detty Kurnia, SKM, MAP, dalam Talkshow Radio Sonata, Selasa, 13 Oktober 2026.

Si Geulis dikembangkan sebagai respons terhadap sejumlah persoalan dalam pengelolaan obat, mulai dari perencanaan kebutuhan yang belum optimal, pencatatan yang belum terintegrasi, hingga pengawasan stok dan obat kedaluwarsa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melalui sistem ini, Dinas Kesehatan Kota Bandung berharap pengelolaan obat dapat dilakukan secara lebih terukur, efisien, dan berbasis data.

“Kalau dari segi filosofi, geulis dalam bahasa Sunda berarti cantik. Saya berharap dengan adanya aplikasi ini, tata kelola obat di Kota Bandung makin geulis, makin cantik,” ujar Detty.

Ia menjelaskan, salah satu latar belakang pengembangan Si Geulis adalah perencanaan kebutuhan obat yang masih cenderung mengacu pada pola konsumsi tahun sebelumnya dan belum didukung analisis yang memadai.

Selain itu, pencatatan dan pelaporan obat perlu diperkuat agar informasi mengenai kebutuhan, persediaan, dan penggunaan obat dapat terintegrasi sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat.

Permasalahan perencanaan dan pencatatan tersebut turut berdampak pada pengelolaan persediaan. Detty mengungkapkan, dalam tiga tahun terakhir terdapat obat kedaluwarsa yang harus dimusnahkan, termasuk biaya pemusnahannya.

Kondisi ini menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan kerugian sekaligus menunjukkan pentingnya perencanaan kebutuhan dan distribusi obat yang lebih tepat.

Selain pengelolaan persediaan, pengawasan penggunaan obat psikotropika juga menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kota Bandung.
Detty menyampaikan, pada September, pengeluaran obat psikotropika tercatat mencapai 2,5 juta butir. Angka tersebut perlu menjadi perhatian bersama dan mendorong penguatan pengawasan agar penggunaan obat dapat dipantau sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.

“Dengan permasalahan yang muncul, saya berharap Si Geulis dapat hadir dan memberikan jawaban. Kita ingin pengelolaan obat ini lebih terintegrasi, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pengawasan,” tuturnya.

Si Geulis diluncurkan pada 8 Oktober 2026 dan saat ini memasuki tahap implementasi melalui proyek percontohan di delapan puskesmas dan sepuluh apotek di Kota Bandung.

Pada tahap awal ini, Dinas Kesehatan masih melakukan pengujian sekaligus menghimpun masukan dari para pengguna untuk menyempurnakan aplikasi sebelum diterapkan secara lebih luas.

Salah satu fitur yang dikembangkan adalah pemantauan stok dan masa kedaluwarsa obat. Setiap fasilitas kesehatan akan memasukkan data obat yang diterima, digunakan, dan dikeluarkan.

Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk memantau ketersediaan persediaan serta mengidentifikasi obat yang mendekati masa kedaluwarsa melalui sistem peringatan dini atau early warning system.

“Ketika obat mendekati masa kedaluwarsa, misalnya tiga bulan, kita perlu mengecek kembali apakah obat tersebut bisa diredistribusikan ke fasilitas kesehatan lain. Sementara itu, ketika masa kedaluwarsanya masih sekitar enam bulan, sistem akan memberikan peringatan agar kondisi tersebut dapat dipantau dan diantisipasi sejak awal,” jelas Detty.

Dalam meningkatkan akurasi perencanaan, Dinas Kesehatan juga akan mendorong puskesmas menggunakan pola konsumsi obat yang disertai Analisis Kombinasi ABC-VEN. Pendekatan ini membantu menentukan prioritas kebutuhan obat berdasarkan nilai pemakaian dan tingkat kepentingan klinisnya.

Dengan analisis tersebut, perencanaan diharapkan lebih tepat sasaran sehingga risiko kelebihan persediaan dan obat kedaluwarsa dapat diminimalkan.

Detty menegaskan bahwa distribusi obat tidak dapat dilakukan dengan membagi jumlah yang sama kepada setiap puskesmas. Kebutuhan masing-masing fasilitas kesehatan perlu disesuaikan dengan jumlah pasien, karakteristik pelayanan, serta kemampuan anggaran.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, perencanaan dan distribusi obat diharapkan lebih proporsional sehingga ketersediaan obat sesuai kebutuhan dan sumber daya yang terbatas dapat dimanfaatkan secara optimal.

Si Geulis juga memiliki fungsi berbeda bagi pengguna internal dan eksternal. Untuk puskesmas dan Dinas Kesehatan, pengembangan sistem difokuskan pada perencanaan, pencatatan, dan pengelolaan obat.
Sedangkan bagi apotek, aplikasi diarahkan untuk mendukung fungsi pengawasan dan pembinaan, khususnya terhadap penggunaan obat psikotropika sesuai kewenangan Dinas Kesehatan. Seluruh fungsi tersebut dikembangkan dalam satu sistem yang saling terhubung.

Melalui dashboard, pimpinan diharapkan dapat melihat data secara lebih cepat dan real time sebagai dasar pengambilan keputusan. Sistem peringatan dini juga dapat membantu petugas mengidentifikasi lonjakan kebutuhan, perubahan stok, maupun kondisi yang memerlukan tindak lanjut.

Meski demikian, Detty menyebutkan bahwa akses masyarakat umum terhadap informasi aplikasi masih menjadi peluang pengembangan ke depan, dengan tetap memperhatikan data yang dapat dipublikasikan.

“Dengan adanya aplikasi ini, ketika data diisi secara real time, kita tinggal melihat dashboard. Data dari puskesmas dan apotek dapat ditarik sehingga lebih cepat terbaca. Harapannya, pimpinan dapat mengambil keputusan berdasarkan data,” ungkapnya.

Di samping pengembangan teknologi, Dinas Kesehatan Kota Bandung juga menyiapkan penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui sosialisasi, edukasi, pertemuan, dan pendampingan teknis.
Kolaborasi turut melibatkan organisasi profesi, perangkat daerah terkait, instansi kesehatan tingkat provinsi dan pusat, akademisi Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, serta media informasi.
Pada 15 Oktober 2026, Dinas Kesehatan menjadwalkan kegiatan edukasi ini dilaksanakan secara hybrid, menghadirkan Kementerian Kesehatan dan akademisi dari Fakultas Farmasi UNPAD sebagai narasumber.

Penerapan Si Geulis akan dilakukan secara bertahap, dengan pengembangan lebih lanjut menuju penerapan yang lebih luas pada 2027.

Melalui Si Geulis, Dinas Kesehatan Kota Bandung berharap pengelolaan obat dapat semakin terintegrasi, transparan, dan akurat, sekaligus memperkuat pengawasan serta efisiensi penggunaan anggaran.

Digitalisasi ini diharapkan menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kota Bandung, dengan dukungan sistem yang andal, sumber daya manusia yang siap, dan kolaborasi berbagai pihak.(tiw)**

Berita Terkait

Alergi Wartawan? Disdik Jabar Tolak Audiensi Media, Minta Surat Polisi
Klarifikasi Ketua P2SP SDN Andir 1 Soal Penggunaan APD dan Arahan Disdik Kab Bandung
Paguyuban Bandung Ngariung menggelar diskusi bisnis bertajuk “THE GAME HAS CHANGED
DPD KKJN Jawa Barat Resmi Dilantik, Tekad Kuat Wujudkan Jurnalis Profesional dan Berintegritas
PEMKOT BANDUNG LUNCURKAN GERAKAN “AKU KAMU KITA”* *DAMPINGI 1000 UMKM URUS SERTIFIKAT HALAL
DP Rumah Subsidi 1% dan BSPS Tanpa Syarat Sertifikat, Kini Disosialisasikan di Bandung
Antusiasme Masyarakat Warnai Kemeriahan Parade Asia Africa Festival 2026
Aktivis Antikorupsi Akan Laporkan Dugaan Penyimpangan Proyek Jalan di Jawa Barat

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 16:57 WIB

Awak Media Dilarang Meliput Muskota IX Kadin Kota Bandung, Panitia Dituntut Klarifikasi

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:14 WIB

BPPH Pemuda Pancasila Jawa Barat Gelar Diskusi Panel Sikapi Carut-Marut Penegakan Hukum di Indonesia

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Pedagang Pasar Ciroyom Tidak Menolak Revitalisasi Wali Kota Harus Bertanggung Jawab Sebagai ( KPM)

Senin, 28 September 2026 - 20:18 WIB

Asosiasi Pedagang Pasar Ciroyom Temui Ketua DPRD Provinsi Ono Surono Setelah Wali Kota Muhammad Farhan Susah Ditemui

Senin, 21 September 2026 - 22:46 WIB

Dua Tokoh Golkar Daniel Mutaqien dan M. Bagja Jaya Wibawa Ucapkan Selamat ke Ngatiyana di Musda VI Golkar Cimahi

Minggu, 6 September 2026 - 16:38 WIB

DPD KKJN Jawa Barat Resmi Dilantik, Tekad Kuat Wujudkan Jurnalis Profesional dan Berintegritas

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:04 WIB

Pendidikan Politik di Bandung Tekankan Demokrasi Harus Diamalkan Setiap Hari

Rabu, 24 Juni 2026 - 16:46 WIB

Bidik Tiga Besar Legislatif, DPD Partai Gerakan Rakyat Kabupaten Bekasi Rapatkan Barisan

Berita Terbaru